Thursday, February 01, 2018

RESENSI BUKU BATU MENANGIS

Judul          : Batu Menangis
Pengarang : Joko Dwinanto
Penerbit     : Balai Pustaka, 1997

Di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita. Mereka hanya hidup berdua, karena suaminya sudah meninggal dan sang janda harus bekerja sebagai buruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tetapi sayangnya, putri semata wayangnya adalah anak yang manja. Ia tidak pernah mau membantu ibunya. Kerjanya hanya berdandan dan berjalan-jalan di desa memamerkan kecantikannya.

Pada suatu hari, sang anak meminta ibunya untuk membelikan kosmetiknya. Sang ibu tidak mengerti kosmestik apa yang dimkasud anaknya dan mengajak anaknya untuk ikut ke pasar. Sang anak tidak mau pergi ke pasar bersama ibunya, tetapi ibunya bersikeras tidak mengetahui kosmestik apa yang diminta. Akhirnya sang anak pun mau ikut ke pasar, tetapi dengan syarat, sang ibu harus berjalan di belakangnya karena ia malu berjalan dengan ibunya.

Di pasar, teman-temannya bertanya, siapakah perempuan yang ada di belakangnya. Sang anak menjawab bahwa ia adalah pembantunya. Sang ibu merasa sedih. Dan ketika bertemu dengan temannya, sang anak berkata dengan jawaban yang sama. Ibunya tidak tahan lagi dan berhenti di jalan. Kemudian sang ibu berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi hukuman yang setimpal.

Petir menggelegar dan tiba-tiba turun hujan deras. Pelan-pelan kaki sang anak berubah menjadi batu. Sambil menangis, sang anak memohon kepada ibunya untuk mengampuninya. Tetapi hukuman telah diberikan. Seluruh tubuh sang anak berubah menjadi patung dengan air mata masih menetes di wajahnya. Oleh warga, patung tersebut ditempatkan di sebuah tebing dan disebut dengan Batu Menangis.


Amanat : kita tidak boleh durhaka kepada orang tua kita.

KARYA
Nama : Irzi Ariyanto
Kelas  : X IPS 4
No       : 19 




Baca juga Kumpulan Resensi Bertema Sejarah Disini

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment